Blog

Istrimu Bukan Pembantu

Thursday, October 29th, 2015

Ketika kamu (suami) membuka mata, tak jarang sudah tak mendapati istri yang kamu cintai berada disampingmu. Ia sudah terbangun untuk menunaikan tugasnya mempersiapkan semua keperluan suami dan anak anaknya, kemudian membangunkanmu dan juga anak anakmu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Menyiapkan air hangat untuk mandi, sarapan agar tenagamu penuh, dan pakaian yang telah dicuci bersih, disetrika rapih, dan disemproti minyak wangi.

Setelah suami pergi, yang sebelumnya dilepas dengan doa yang tak putus, senyum yang senantiasa merekah, wajah yang sumringah, dan salam lembut penuh doa, pahamilah satu hal tengah mengantri sekian daftar kerjaan rumah tangga lainnya yang harus dikerjakan oleh istri yang Anda sayangi itu.

Rumah, harus segera dibersihkan. Mulai menyapu, mengepel lantai, jendela, merapikan kamar tidur, mencuci piring, pakaian, dan masih banyak pekerjaan remeh lain yang tidak mungkin dan akan sangat melelahkan jika didetail satu persatu. Belum lagi jika istri Anda sedang dalam keadaan hamil, betapa melelahkan dan capeknya istri tercinta Anda.

Kemudian, seharian istri Anda sendirian menyelesaikan pekerjaan rumahnya, di senja hari Anda pulang dengan membawa lelah, dia pun segera mempersiapkan diri dengan penampilan dan senyuman terbaiknya untuk menyambut Anda. Iya, istrimu melakukan itu sejak hari pertama pernikahan, hingga kini. Silakan hitung, berapa lama masanya? Berapa banyak yang harus ia korbankan untuk melakukan hal itu?

Wahai para suami, bukankah itu amat melelahkan dan jauh lebih banyak dari tugas Anda di kantor mana pun anda bekerja dengan jabatan setinggi apa pun? Apakah masih ada suami yang menganggap pekerjaan rumah adalah wilayah otoritas istri? Bahkan ketika sang istri sedang mengandung pun engan untuk mau sekadar meringankan kewajibannya. Seakan-akan membantu pekerjaan rumah tangga merupakan cela bagi seorang suami.

Wahai para suami, Ingatkah engkau ketika melakukan akad nikah telah terjadi sebuah kesepakatan yang mewajibkan engkau sebagai menantu atau suami untuk menanggung beban kehidupan istri dan anak-anaknya nanti. Akad nikah bukanlah akad kerjasama antara suami dan istri untuk menanggung bersama atau membagi urusan rumah tangga untuk istri dan kewajiban suami hanyalah mencari nafkah saja. Akad nikah hanya membebani suami saja, dan tidak ada beban apa pun di pihak istri. Dari situlah datangnya kepemimpinan suami atas istri, sebagaimana sudah ditetapkan Allah SWT di dalam Al-Quran.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa : 34)

Lalu Apa Tugas Dasar Seorang Istri?
Istrimu berhak untuk memiliki harta sendiri, dia berhak untuk melakukan aktifitas ekonomi yang menghasilkan harta di luar dari apa yang telah menjadi hak nafkah dari suami dan hak ini dijamin oleh syariat Islam. Istri juga wajib berada disisi suaminya bila suami memerlukannya dan dia juga wajib mematuhinya. Dalam hal ini sudah menjadi kewajiban istri untuk stand-by bila suami membutuhkan dirinya.

Akad nikah yang terjadi antara mertua dan menantu sama sekali tidak ada kaitannya dengan segala tugas pembantu itu. Jumhur ulama sepakat bahwa satu-satunya kewajiban seorang istri dari akad nikah itu semata-mata hanya memberikan pelayanan seksual kepada suami.

Namun dalam kenyataanya di lingkungan bermasyarakat kita, kebanyakan dari para istri dan wanitanya sendiri sudah merasa nyaman dengan pola kehidupan seperti itu, ikhlas, ridha dan bahagia, tentu saja semua itu menjadi hak mereka.

Kalau seorang istri merasa nyaman dengan semua tugas rumah tangga itu, maka bukan cuma boleh hukumnya, tetapi juga mendapatkan pahala di sisi Allah SWT. Sebab semua itu termasuk bagian dari amal shalih yang dikerjakan dengan tulus, walaupun bukan tugasnya.

Renungan dan nasehat untuk para suami
Maka perlakukan istrimu dengan sebaik-baik perlakuan. Lembutkanlah perkataanmu, berilah ia udzur atas kekurangannya, seperti ia memberi udzur atas kekuranganmu. Dan jika ia bengkok dan keliru, luruskanlah dengan hikmah dan kasih sayang, bukan dengan keangkuhan dan kekerasanmu yang justru akan mematahkannya.

Luangkanlah waktu untuk berduaan saja dengannya, dengarkanlah keluh kesahnya, jadilah sahabat terbaik baginya untuk mencurahkan isi hati. Dan ketika ia penat, jadilah bahu untuknya bersandar. Kalau bukan kepada engkau, suaminya, kepada siapa lagi ia hendak menumpahkan rasa?

Dukunglah ia untuk meningkatkan keahlian dan bakatnya yang terpendam selama ini. Mengikuti berbagai kursus, mengembangkan bakat, mengikuti seminar-seminar yang bermanfaat dan dauroh khusus muslimah. Selama itu bermanfaat dan tidak melanggar syariat, kenapa tidak?

Berilah ia sedikit jeda dari rutinitas hariannya. Seorang istri butuh waktu untuk sendiri, untuk berkumpul dengan kawan-kawannya, untuk menyegarkan pikiran sejenak dari tugas-tugas rumah tangga yang seperti tak ada habisnya. Bahkan seorang pembantu rumah tangga memiliki hari libur dan hak untuk mengajukan cuti.

Bagaimana dengan seorang ibu? Adakah waktu libur baginya? Nyaris tak pernah ada. Karena bagi seorang wanita, menjadi ibu bukanlah profesi. Ia adalah kehidupan sekaligus tempatnya mengaktualisasikan diri dengan penuh dedikasi.

Selalu dan senantiasa, ingatlah kembali tujuan hidup kalian berdua selama ini, berjalan dan berjuang bersama menuju surga. Karena kebersamaan di dunia ini tidaklah cukup.

Jika engkau masih enggan untuk turut membantunya dalam pekerjaannya, maka setidaknya, maklumilah dia. Abaikanlah debu-debu yang menempel di lantai ruang tamu, mainan-mainan yang berserakan di lantai, makanan yang belum siap terhidang di meja. Yang kaudapati di suatu sore ketika engkau pulang kerja.

Maklumilah bahwa ia hanya punya dua tangan, dua kaki dan satu kepala untuk menuntaskan semua kewajibannya yang hampir tak terhingga itu. Maklumilah bahwa ia hanya sosok wanita biasa dengan tuntutan-tuntutan yang sederhana.

Yaitu, agar engkau selalu mencintai, mengerti dan menerima dirinya, sepenuhnya. Karena dalam kehidupan pernikahan kalian berdua, baginya tidak ada yang lebih penting lagi daripada itu.

Sumber: sifaloveshijab.com

Leave a Comment