Blog

Istri Yang Solehah Untuk Suami

Tuesday, December 8th, 2015

Artikel Istri Yang Solehah Untuk Suami ini, mencoba memaparkan bagaimana seharusnya perempuan mampu memposisikan diri sebagai istri. Setidaknya berusaha menjadi istri yang solehah untuk suami.

الدنيا متاع وخيرمتاعهاالمرأةالصالحة – رواه مسلم

“Dunia adalah sebuah perhiasaan dan perhiasan yang terindah adalah wanita sholihah” (HR. Muslim)

Setelah diedit agar enak dibaca dalam bahasa Indonesia, kurang lebih artinya seperti ini :
Setidaknya kalian kini sudah paham, bahwa suami itu pada awalnya adalah orang lain. Tetapi setelah sempurnanya ijab qobul, di bai’at dengan syahadat dan di saksikan oleh para saksi, kemudian ke dua belah pihak menjadi khuququzzaujiah. Yang awalnya haram menjadi halal, dari seluruh badan dan madu dari suami ataupun istri, semuanya sudah menjadi halal. Begitu pula dengan beberapa hal yang tadinya tidak ada hukumnya menjadi kini ada hukumnya.

Setengah dari khitmah (hal-hal yang wajib ditaati) istri terhadap suami, yang harus diketahui oleh istri diantaranya :

1). Menghadapi permasalahan apapun lebih baik di musyawarahkan bersama antara suami dan istri

Permasalahan sekecil apapun jangan didiamkan (disepelekan) tanpa ada sebuah penyelesaian. Biasakanlah untuk memusyawarahkannya dan mencari jalan keluar dengan baik antara suami istri agar tercipta keluarga yang rukun dan harmonis.

2). Ketika seorang istri hendak pergi keluar rumah haruslah meminta izin terlebih dahulu kepada suami. Pun ketika keluar juga harus seperlunya

Umumnya perempuan suka menyepelekan ketika suami sedang tidak ada di rumah. Mereka bepergian ke sana kemari tanpa sepengetahuan suami, sedang tetangga-tetangganya tahu bahwa suaminya sedang bepergian. Karenanya sangat dikhawatirkan bila seorang istri keluar tanpa sepengetahuan suami akan mengakibatkan berita-berita yang tidak enak (berita buruk yang mencemarkan nama baiknya dan suaminya). Maka dari itu seorang suami ketika sedang bepergian pun harus selalu mengawasi istrinya (memberi perhatian/menanyakan kabar ) terlebih dalam urusan ibadahnya istri.

3). Di saat suami sedang bepergian, seorang istri harus menjaga dunia dan jiwanya dari bermacam-macam resiko

Ada sebuah kisah ;
Tersebutlah seorang perempuan (istri) yang sedang ditinggal bepergian oleh suaminya. Tiba-tiba ayah kandungnya jatuh sakit. Kemudian perempuan tersebut dijemput oleh salah seorang keluarganya. Ia diminta untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit. Namun, ia tidak berani meninggalkan rumah dan pergi menjenguk ayahnya. Untuk meyakinkan diri, ia kemudian terpaksa menyuruh seseorang untuk menemui (soan) kepada Nabi Muhammad SAW dengan maksud untuk menanyakan hal tersebut. Terkait boleh atau tidaknya seorang istri keluar dari rumah dengan maksud untuk menjenguk ayahnya yang sedang sakit? Sedangkan suaminya sedang tidak ada di rumah. Ternyata didapatkan jawaban tidak diperbolehkan.
Keesokkan harinya, utusan itu kembali menanyakan hal yang sama kepada Nabi Muhammad, sebab ayah si perempuan sekarang dalam keadaan kritis. Namun, jawaban Nabi Muhammad tetap tidak mengizinkan dan begitu seterusnya sampai ayah si perempuan itu meninggal dunia.
Sampai si perempuan hendak melayat pun tidak bisa. Ia harus menunggu suaminya sampai kembali dari bepergian terlebih dahulu. Sampai jenazah ayahnya di kubur si perempuan tidak bisa melihatnya. Saat suaminya telah pulang ke rumah, si perempuan dipanggil oleh Nabi Muhammad. Beliau dawuh (sabda) demikian;
“Wahai engkau, istri yang sholihah, bersyukurlah kamu kepada Allah SWT. Sebab ayahmu telah di terima semua amalnya dan dihapuskan dari semua dosa-dosanya. Sebab baktimu pada suamimu (saat engkau ditinggal bepergian oleh suamimu, engkau tetap menjaga amanahnya, dan berbakti pada suamimu).

وأخرج الحكيم الترمذي في نوادر الأصول عن أنس أن رجلاً انطلق غازياً وأوصى امرأته لا تنزل من فوق البيت ، فكان والدها في أسفل البيت فاشتكى أبوها ، فأرسلت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم تخبره وتستأمره ، فأرسل إليها إتقي الله وأطيعي زوجك . ثم إن والدها توفي فأرسلت إليه تستأمره ، فأرسل إليها مثل ذلك . وخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم وصلى عليه ، فأرسل إليها أن الله قد غفر لأبيك بطواعيتك لزوجك

Ditakhrij oleh Al-Hakim dan at-Turmudzi dalam Nawadir al-Usul, dari Anas: Seorang laki-laki berangkat berperang dan berwasiat kepada istrinya untuk tidak turun dari atas rumah. Sementara itu ayah wanita tersebut tinggal di bagian bawah sehingga ayah wanita tersebut mengadu. Maka wanita tersebut mengutus seseorang untuk memberikan kabar dan memohon pendapat Rasulullah saw, mendengar hal tersebut Rasulullah saw, memerintahkan kepadanya untuk bertaqwa kepada Allah dan taat kepada suami. Bahkan pada saat orang tua wanita tersebut meninggal, ia mengutus seseorang untuk memberikan kabar dan memohon pendapat Rasulullah saw, sehingga Rasulullah memberikan jawaban yang sama dengan jawaban sebelumnya. Kemudian Rasulullah saw, menjumpainya dan berkata bahwa Allah telah mengampuni Ayahnya dengan ketaatannya kepada suami.

22090_417079141702685_1922119953_n
4). Jika ada tamu laki-laki dan bukan mahramnya, istri tidak boleh menemuinya (sendirian) kecuali ada wakil darinya (mahramnya) untuk mewakili menemui tamu tersebut

Dikhawatirkan ketika ada tamu laki-laki yang bukan mahram, dalam keadaan seorang istri sendirian di dalam rumah maka akan mengakibatkan fitnah (meskipun tidak melakukan hal-hal tercela).

5). Bila berbicara apapun pada suami harus dengan sopan (andab ashor) dan lemah lembut yang bisa
menarik hati suami

6). Jangan sampai memasang wajah cemberut di depan suaminya. Jadi harus dengan wajah yang berseri dan penuh senyum di depan suaminya (sumeh)

7). Jika dipanggil oleh suaminya istri harus menjawab dengan segera, dan dengan jawaban yang lembut dalem (iya)

8). Ketika diberi hadiah oleh suami berbentuk apapun, terimalah dengan kedua tangan dan dengan expresi yang menarik (manja)

9). Ketika dibelikan apa saja oleh suami, jangan sampai mencela pemberiannya apalagi dengan wajah yang tidak suka dan tak menghargai pemberiannya

10). Semua rahasia antara suami dan istri atau dengan orang lain (yang itu adalah rahasia) harus di simpan dengan rapat

11). Ketika seorang suami mau bepergian atau pulang dari bepergian, bagi seorang istri biasakanlah untuk bersalaman dan mencium tangan suaminya. Begitu juga supaya istri mengantar suaminya sampai ke depan pintu, pun ketika suaminya pulang dari sholat jumat istri haruslah membiasakan untuk bersalaman

12). Jika seorang suami ketiduran dalam keadaan lupa bahwa ia belum sholat. Seorang istri hendaknya membangunkan suami dengan tutur kata yang halus. Begitu juga ketika suami lupa dengan janji-janjinya atau lupa dalam hal apa saja

13). Ketika makan usahakan untuk bersama-sama. Bila di antaranya (suami atau istri) lupa tidak membaca Bismillahirrahmanirrakhim supaya di ingatkan. Apabila teringat saat di tengah-tengah sedang menyantap makanannya, supaya ditambah dengan Bismillahirrahmanirrakhim awwaluhu wa akhirohu

14). Apabila suami sedang makan kemudian tidak habis (sisa), dianjurkan si istri untuk menghabiskan

15). Bila ada nasi yang berceceran, dianjurkan untuk diambil kemudian dimakan. Siapa tahu dalam nasi yang berceceran itu sebenarnya yang membawa berkah

16). Pakaian seorang suami sesungguhnya bukanlah kewajiban seorang istri untuk mencucinya. Tetapi apabila tidak ada atau suami tidak punya waktu untuk mencuci sendiri karena kesibukannya maka lebih baik istrilah yang mencucikan pakaian suaminya

17). Jangan sampai seorang istri itu membantah pada suami. Bila ada ketidaksanggupan, tidak berkenan, ataupun kesalahan pada perintah suami, ingatkanlah ia dengan baik-baik. Musyawarah yang baik dengan disertai tutur kata yang halus dan lembut.

18). Bila suaminya kedatangan tamu dan si suami ada di rumah, maka istri sebaiknya segera mengeluarkan hidangan/jamuan untuk segera disuguhkan

19). Seorang istri sebaiknya selalau menjaga kebersihan, kerapian dan rajin. Dapat mengatur dapur, kamar, badan juga pakaian agar selalu bersih

20). Seorang istri sebaiknya tidak meminta dibelikan pakaian oleh suaminya, lebih utama untuk menunggu dibelikan oleh suami

21). Pangkat, dunia atau kelebihan dari suaminya jangan diceritakan kepada orang lain
22). Jangan membanding-bandingkan suaminya dengan suami tetangga ataupun dengan orang lain (mengunggulkan orang lain melebihkan orang lain di depan suami)

23). Jangan sampai seorang istri memerintah suami, menyuruh pada suami yang suami tidak berkenan untuk melakukannya atau menyuruh yang tidak pantas untuk dikerjakan oleh laki-laki

24). Seorang istri tidak baik apabila bersikap terlalu royal (boros) juga tidak baik terlalu pelit (sedang-sedang saja)

25). Jangan sampai menyembunyikan makanan, atau apapun yang itu adalah hak seorang suami

26). Apabila dalam berumah tangga, suami dan istri sedang cekcok (bertengkar) jangan sampai pertengkaran mereka di dengar oleh anak-anaknya

27). Seorang istri jangan sampai terbiasa hutang, kecuali bila dalam keadaan dharurot (terpaksa sekali) pun atas seizin suaminya

28). Lebih utama seorang istri dalam melaksanakan sholat fardhu berjamaah (menjadi makmum suami) sebab sholat berjamaah itu menyimpan begitu banyak berkah dan pahala

29). Seorang istri tidak boleh melakukan shodaqoh sunnah kecuali atas izin dari suaminya. Namun bila zakat wajib itu memang harus memaksa, apalagi bila suaminya lupa tidak menunaikan. Si istri wajib untuk mengingatkan suaminya

30). Bila sedang bermusyawarah, ketika suami sedang bicara meskipun bicaranya tidak lancar (karna belum terbiasa) seorang istri tidak boleh memotong pembicaraan suaminya

31). Saat bersikap dengan keluarga (famili), bapak dan ibu dari suami dalam bersikap harus disamakan dengan ketika dia bersikap pada keluarganya (famili) bapak ibunya sendiri

32). Seorang istri tidak boleh melaksanakan puasa sunnah kecuali atas izin dari suaminya. Namun, bila itu puasa wajib boleh memaksa meskipun suami tidak mengizinkan

33). Tidak boleh berdandan kecuali hanya untuk menyenangkan (membahagiakan) suaminya, khususnya ketika sedang makan bersama

34). Seorang istri supaya bisa untuk membedakan masakan apa yang pas untuk dimakan ketika sedang musim dingin atau musim panas, dan memasak masakan yang menjadi kesukaan suami

35). Jangan menolak ketika suami memanggil apalagi ketika suami menginginkan untuk berkumpul (jimak/bercumbu)

Tambahan; ketika seseorang (laki-laki dan perempuan) memutuskan untuk berumah tangga, keduanya harus mengerti tentang tugas dan kewajiban masing-masing (suami dan istri). Apa saja tugas sebagai istri dan apa saja tugas sebagai suami. Dengan demikian InsyaAllah akan lebih kokoh pondasi berumah tangga.

Suami ataupun istri, keduanya harus siap dengan hal-hal baru yang dijumpai pada pasangannya, entah itu kebaikan ataupun keburukan. Karena sejatinya tidak ada yang sempurna dalam diri manusia. Seperti siap untuk belajar mengenal pasangannya seumur hidup dengan ilmu Allah yang begitu luas.

Dan untuk para suami ingatlah bahwa baik buruk istrimu dan dermaga keluargamu itu adalah kewajibanmu untuk mengarahkan dan membawanya kepada sakinah mawaddah warrahmah.

Leave a Comment